Home » , » Profil MFQ Madrasah Muallimin Hasyim Asy'ari

Profil MFQ Madrasah Muallimin Hasyim Asy'ari

MFQ adalah sebuah lembaga santri di bawah naungan Madrasah Muallimin Hasyim Asy'ari Pesantren Tebuireng Jombang yang didirikan sebagai upaya dan ikhtiyar dalam rangka meningkatkan kreatifitas dan kualitas para santri melalui pengembangan forum diskusi ilmiyah Islamiyah, studi hukum Islam, kajian kitab salaf (khususnya kitab Fath al Qarib), pengkaderan delegasi Bahtsul Masa'il antar pondok pesantren. 

Kegiatan ini dilaksanakan setiap hari Senin malam Selasa dengan sistem kelompok dari setiap kelas yang sudah ditentukan oleh pengurus. Dalam pelaksanaanya, musyawarah terbagi menjadi empat tahap. Yaitu pembacaan teks serta murod (arti), kesimpulan teks dan dilanjutkan dengan pertanyaan yang berkaitan dengan materi yang meliputi ilmu gramatika Arab (nahwu sharaf) dan pemahaman fiqhiyyah. Permasalahan yang dianggap mauquf (tidak bisa diselesaikan) akan diaangkat ke forum Bahtsul Masa'il.


Penekanan dalam musyawarah ini lebih pada metode pemahaman fiqhiyyah secara tekstual dalam kitab rujukan yang sudah jadi. Artinya, pada musyawarah tingkat ini, wilayah diskusi hanya berkisar pada pemahaman redaksional (lahiriyah), santri tidak diharuskan mampu mendiskusikan materi berdasarkan teori dan prinsip-prinsip fiqh secara metodologis.
Pola kajian hukum dalam musyawarah level ini, dalam melihat suatu kasus harus mencarikan teks-teks dalam kitab-kitab yang telah ditentukan, baik teks itu secara kongkrit menjelaskan status hukum persoalan yang disoroti atau hanya sebagai bahan bandingan. Jika dalam suatu persoalan terdapat beberapa qoul (pendapat), maka mereka tidak melakukan pemilihan untuk memutuskan apakah pendapat ulama 1 atau pendapat ulama 2 yang lebih kuat dan unggul. Biasanya mereka hanya menyimpulkan bahwa dalam persoalan tersebut terdapat khilâf (kontroversi) di antara ulama.
Pola kajian pada musyawarah level ini masih belum secara maksimal memberikan peluang tumbuhnnya dinamika pemikiran dari musyawirin. Sikap kritis dan analisis dalam menyikapi pendapat-pendapat yang ada belum mempunyai ruang gerak yang cukup. Pada level ini, keberadaan Al-Qur`an dan hadits sama sekali belum ditempatkan pada posisi yang semestinya, yakni sebagai rujukan dasar semua persoalan agama. Para musyawirin “dikondisikan” untuk berpendapat bahwa pendapat para ulama yang tertuang dalam kitab kuning merupakan interpretasi dari Al-Qur`an dan Hadits. Keduanya, menurut keyakinan mereka merupakan kumpulan tata aturan yang masih bersifat mujmal (global), sehingga untuk bisa mengurai keduanya dibutuhkan perangkat keilmuan yang tidak sederhana. Dan semua perangkat keilmuan tersebut mereka yakini ada pada diri para mushannif kitab kuning. Sehingga apa saja yang termaktub dalam kitab kuning tidak ubahnya penjelasan terhadap Al-Qur`an dan Hadits itu sendiri. Kalau Al-Qur`an dan Hadits tidak boleh dikritik dan dipertanyakan kebenarannya, begitu juga mengenai isi kitab kuning, ia tidak sepantasnya untuk dikritik, dipertanyakan ulang kebenarannya, dan dipertentangkan satu dengan yang lain.
Dalam musyawarah ini peranan ushul fiqih dan kaidah-kaidah fiqhiyah nyaris belum begitu tampak. Karenanya, terkadang ada upaya “pemaksaan” dalam menganalisa suatu persoalan. Untuk menganalisa sebuah persoalan terkadang para musyawirin menggunakan teks yang tidak secara tegas menyinggung korelasi teks tersebut dengan persoalan yang dikaji.
Pola berfiqih yang dikembangkan oleh para musyawirin Fathul Qarib masih mencerminkan pola berfiqih qauli. Dalam arti, bahwa yang terlihat dalam pola penentuan hukum hanyalah berkisar pada komparasi teks-teks dalam kitab, yang dilanjutkan dengan pemilihan teks yang mereka anggap paling sesuai dengan tema bahasan, tanpa melakukan analisa terhadap metodologi yang dipakai oleh para ulama dalam menggali Al-Qur`an dan hadits.
Dalam pengembanganya, santri diharapkan dapat menjadi sosok panutan yang selalu mengedepankan musyawarah didalam menanggapi perbedaan, menghargai pendapat orang lain yang tidak sesuai dengan pendapatnya, serta menjadi kader Islam di masyarakat ketika sudah pulang ke daerahnya masing-masing yang mampu menjawab segala problematika kemasyarakatan yang semakin rumit. Wallohu A'lam.


0 komentar:

Posting Komentar